Taman Nasional Komodo

Taman Nasional Komodo ditutup?

Rencana penutupan taman nasional Komodo oleh gubernur Nusa Tenggara Timur menjadi polemik bagi masyarakat Flores terutama insan pariwisata. Begitulah situasi saat ini yang dihadapi oleh insan pariwisata yang bekerja pada sektor pariwisata.

Bagi masyarakat awam tentang pariwisata, tentu tidak memahami dampak dari rencana penutupan kawasan taman nasional Komodo. Tetapi insan pariwisata yang selama ini mengadu nasib pada sektor pariwisata menjadi kendala yang paling dasyat.

Bahkan rencana penutupan ini seperti prediksi bencana alam yang besar akan menimpa insan pariwisata Flores yang memang sangat merasakan dampaknya. Memang, taman nasional Komodo tidak seperti taman nasional lain di Indonesia. Karena keunikan binatang Komodo yang hanya ada di taman nasional Komodo, sehingga banyak campur tangan dari pihak manapun.

Dalam sejarah pengelolaan kawasan taman nasional Komodo oleh pemerintah pusat melalui kementerian kehutanan sejak tahun 1980 an yang seyogyanya berjalan cukup baik hingga saat ini, namun selalu diberi tantangan oleh pihak yang ingin mengelola kawasan.

Mulai dari TNC(the nature conservancy) hingga dikelola oleh PT. Putri Naga Komodo selalu menjadi polemik ditengah masyarakat. Terkadang masyarakat bingung dengan kebijakan pengelolaan taman nasional Komodo kepada pihak swasta. Semua dampak pengelolaan swasta berdampak pada pada masyarakat terutama insan pariwisata dan masyarakat lokal yang mengais hidupnya dari kegiatan pariwisata.

Terkadang sulit bagi masyarakat pariwisata ketika melihat kawasan ini selalu menjadi polemik oleh pihak yang ingin mengelola kawasan taman nasional Komodo. Berbagai napsu dan kepentingan bisnispun selalu menghantui pengelolaan kawasan. Bisnis pariwisata pun selalu carut marut karena dampak dari berbagai persoalan taman nasional Komodo.

Jika dari dulu adalah pihak swasta yang ingin mengelola kawasan, yang menjadi persoalan bagi pekerja pariwisata sejumlah belasan ribu orang, sejak awal tahun 2019 muncul persoalan baru. Kini taman nasional Komodo direncanakan akan ditutup. Ide penutupan kasawan taman nasional Komodo adalah gubernur Nusa Tenggara Timur.

Mulai dari pengelolaan oleh pihak swasta hingga rencana penutupan oleh pemprov NTT selalu membawa dampak negatif terhadap insan pariwisata. Tameng konservasi demi anak cucu dan keselamatan kawasan dari kepunahan menjadi alat untuk mengelola atau menutup kawasan. Pertanyaan saya, apakah negeri ini sudah tidak percaya lagi pada departement yang resmi dari negara?

Karena ketika pihak swasta atau pemprov ingin mengelola atau menutup kawasan maka Kementerian Kehutanan tidak diakui keberadaan dalam struktur pemerintahan RI. Sebuah instansi negara harus diobok obok oleh yang tidak berwenang? Ada apa dengan kawasan taman nasional Komodo yang penuh dengan misteri? Sungguh ironis ketika kementerian negara yang memiliki otoritas penuh untuk mengelola kawasan taman nasional Komodo selalu dipersoalkan oleh berbagai pihak yang bukan merupakan wewenang undang – undang untuk pengelolaanya.

Melihat banyak persoalan dengan tameng konservasi demi anak cucu atau keselamatan binatang Komodo serta semua habitatnya, maka taman nasional Komodo menjadi salah satu taman nasional di Indonesia yang selalu menjadi misteri. Penuh dengan misteri yang memberi dampak kehancuran bagi pariwisata Indonesia terutama pulau Flores. Sejarah panjang pengelolaan kawasan taman nasional Komodo sejak tahun 1980, tidak ada memiliki kendala oleh pihak otoritas yaitu kementerian kehutanan RI. Tetapi ketika sebuah kawasan sudah mendunia karena pariwisatanya lalu muncul banyak persoalan baru yang muncul.

Taman nasional Komodo merupakan salah satu taman nasional yang memiliki daya tarik wisata berkelas internasional. Dimana merupakan destinasi utama di Indonesia. Puluhan ribu wisatawan berkunjung ke taman nasional Komodo setiap tahun. Tentu kunjungan wisatawan tersebut berdampak positif bagi pelaku pariwisata lokal. Hingga saat ini belasan ribu tenaga kerja di sektor pariwisata terserap diberbagai bisnis pariwisata dikota Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat pulau Flores.

Apakah dengan menutup kawasan taman nasional Komodo akan berdampak baik kepada pelaku – pelaku pariwisata ditaman nasional Komodo? Tentu jawabanya adalah “tidak”. Ini akan menjadi bencana besar bagi pelaku pariwisata. Ini adalah bentuk pembunuhan manusia secara misterius. Sebab bagi orang yang paham tentang pariwisata mesti ini disebut sebagai bencana. Penutupan saja membutuhkan waktu untuk menyebarkan informasi keluar negeri. Apalagi untuk membuka kembali tentu membutuhkan waktu tentang informasi wisata keluar negeri.

Rencana penutupan kawasan taman nasional Komodo oleh gubernur NTT adalah sebuah bencana bagi insan pariwisata baik yang ada di NTT maupun seluruh wilayah Indonesia. Tentu dampak dari rencana ini sudah terasa oleh insan pariwisata di Indonesia. Bukan menjadi tugas mulia ketika membunuh belasan ribu tenaga kerja di kota Labuan Bajo, jika pemikiran pemimpin NTT yang seyogyanya salah satu tujuan pemerintah adalah menciptakan lapangan pekerjaan. Maka sangat ironis ketika menutup lapangan pekerjaan bagi belasan ribu manusia dengan rencana penutupan taman nasional Komodo.

Sebagai insan pariwisata NTT, saya berharap agar rencana penutupan kawasan taman nasional Komodo dibatalkan sehingga tidak kehilangan pekerjaan bagi belasan ribu manusia yang bekerja disektor pariwisata. Kalau bicara dampak mesti dibuat studi kelayakan tetapi bukan ditutup. Mesti bangun regulasi baru bagaimana mengelola kawasan agar tetap terjaga dengan baik sehingga seirama antara alam dan habitatnya tetapi tidak menutup kawasan.

Segenap insan pariwisata NTT dan Indonesia berharap agar pihak kementerian terkait pengelolaan kawasan taman nasional Komodo agar bisa mempertimbangkan rencana penutupan taman nasional Komodo.